LONTONG SAYUR MEDAN

Celoteh dan Uneg-Unegku

DARI RAJA CHULAN HINGGA ORCHARD ROAD

Posted by abdinst pada April 13, 2009

Raja Chulan adalah salah satu tokoh kebanggaan Malaysia. Menurut situs sejarah Malaysia di internet, Raja Chulan termasuk tokoh founders. Namanya diabadikan menjadi sebuah nama jalan di jantung kota Kuala Lumpur. Apa yang menarik dari jalan Raja Chulan ini? Seperti halnya jalan Soedirman di Jakarta, jalan Raja Chulan termasuk pusat bisnis yang dipenuhi gedung-gedung perkantoran yang mencakar langit. Asyiknya, trotoar di bahu jalan tersebut dibuat untuk kenyamanan para pejalan kaki. Kalau berjalan tak perlu khawatir diseruduk mobil atau angkot dari belakang.

Sepanjang jalan disediakan pula tempat-tempat sampah sehingga memungkinkan kita untuk membuang sampah pada tempatnya, dan tak perlu bersusah payah mencarinya. Selain tempat sampah, telepon umum pun siap sedia untuk menghubungkan kita dengan dunia luar. Cukup dengan koin lima ringgit malaysia, saya bisa ber-say hello dengan kerabat di Medan dan Jakarta. Tarif teleponnya cukup hemat, bayangkan waktu itu saya cuma beli kartu telepon umum seharga 50 ringgit (setara dengan 125 ribu rupiah) dengan tambahan pulsa gratis 20 ringgit, saya bisa ngobrol dengan ibu saya di medan hampir 30 menit, ngobrol dengan teman di Jakarta untuk waktu yang sama. Sisa pulsa kartu saya masih bisa dipakai lagi untuk telepon ke beberapa tempat lainnya, baik lokal maupun sambungan langsung internasional. Murah banget, begitu pikir saya.

Malam hari, di sekitar jalan Raja Chulan, seperti jalan Sultan Ismail dan daerah Bukit Bintang, saya merasakan malam hari yang romantis. Gerai-gerai makanan yang kelihatan sepi di siang hari terasa hidup di malam hari, terutama di daerah Bukit Bintang. Di sepanjang jalan daerah itu terdapat gerai-gerai makanan yang menawarkan begitu banyak jenis makanan, mulai khas Melayu, India, China, hingga Eropa, kita tinggal pilih sesuai selera. Herannya, mereka tak membuat jalan-jalan raya di daerah itu jadi macet. Turis-turis mancanegara dengan aman dan damai menikmati semua itu, termasuk saya.

Masalah transportasi di negeri jiran itu tak perlu dirisaukan pula. Di Kuala Lumpur, kita bisa memilih sarana transportasi yang kita inginkan, mau bis, taxi, atau KL Monorail. Kalau pengen hemat dan bisa keliling-keliling kota, kita bisa memilih bis. Naik bis di kota itu tak perlu khawatir ada jambret atau copet, apalagi pengemis atau pengamen, kita bisa menikmati suasana kota dengan tenang. Kalau mau pilih yang lebih unik, kita tinggal pilih KL Monorail (monorel). Monorel di Kuala Lumpur menghubungkan berbagai titik wilayah yang sangat dekat dengan pusat perbelanjaan, hotel, dan tempat wisata, ongkosnya juga tidak terlalu mahal. Tiga hari di negeri itu rasanya masih belum cukup dan belum puas. Pengen rasanya tinggal di negeri itu lebih lama lagi.

Di Orchard Road Singapore, saya juga menemukan suasana yang hampir sama, dan tak jauh berbeda dengan Kuala Lumpur. Trotoar di sepanjang jalan itu sangat memanjakan pejalan kaki, terutama bagi penggila belanja. Transportasi di negeri itu sudah menjangkau seluruh wilayahnya, mulai kereta bawah tanah (MRT), bis hingga taxi. Dan jangan harap kita menemukan taxi gelap tanpa argo atau supir yang ugal-ugalan, dan jangan harap pula kita bisa memberhentikan taxi di sembarang tempat, semuanya berhenti pada tempat-tempat yang sudah ditentukan, dan jangan heran kalau di tempat pemberhentian taxi, orang-orang sabar mengantri taxi hingga beberapa meter di sepanjang jalan itu.

Berjalan-jalan di sepanjang Orchard Road tak membuat kaki lelah (terasa lelah kalau sudah tiba di kamar hotel). Trotoar di jalan itu lebar dan luas, kalau lapar atau lelah kita tinggal makan di gerai-gerai makanan yang tersedia di jalan itu, dan duduk beristirahat di bangku-bangku yang sudah disediakan di sepanjang pinggiran Orchard Road terutama bagi para shopcoholic yang kecapaian belanja. Sambil duduk-duduk di situ, kita bisa menikmati suasana Orchard Road yang sibuk tapi tak menimbulkan kesan kumuh. Berbagai suku bangsa, terutama Indonesia, banyak melalui jalan itu tanpa khawatir ada pencopet, apalagi bom.

Kita juga tak bakalan menemukan sampah, tempat sampah selalu disediakan sangat dekat dengan tempat kita berjalan. Slogan “Buanglah sampah di tempatnya” tak hanya sekadar kata-kata mutiara di tempat itu, tapi sangat mudah dilaksanakan.

Berkomunikasi dengan dunia luar pun sangatlah mudah. Telepon umum yang berada di sepanjang Orchard Road bisa kita pakai untuk sambungan langsung internasional dengan tarif yang sangat murah. Dengan modal kartu seharga 10 Dollar Singapore plus pulsa tambahan gratis, saya bisa cerita ngalor ngidul dengan teman-teman dan kerabat di Medan dan Jakarta, hingga habis saat menjelang pulang ke Jakarta. Dua hari di Singapore rasanya masih sangat belum cukup.

Tiba di Jakarta kepala saya jadi pusing dan gerah kembali. Kenyamanan yang saya dapatkan di negeri tetangga tadi, lenyap sudah. Saya harus menghadapi kenyataan. Mencari transportasi di Jakarta memang mudah, tapi kalau mencari kenyamanan akan sulit diperoleh. Kalau mau naik taxi harus pintar-pintar memilih taxinya, salah pilih bisa-bisa kita bangkrut dalam sehari, selain mesin argonya yang tak bener, kita juga bisa diajak muter-muter jalan oleh sang taxi bila tak mengenal jalan yang akan kita tuju. Itu pun masih untung, karena ada penumpang yang dirampok bahkan dibunuh oleh supir taxi beserta komplotannya (kalau ia punya komplotan).

Bila naik taxi terlalu mahal, kita bisa pilih bis. Bis bisa dijadikan pilihan di Jakarta, tapi kita harus siap mental untuk menumpang kendaraan massal ini, kenyamanan dan ketenangan jangan harap bisa diperoleh meski naik bis yang ber-AC. Pedagang asongan, pengemis, dan pengamen akan senantiasa “menghibur” kita sepanjang perjalanan.

Alternatif lain selain bis dan taxi juga ada. Kita bisa naik busway, naik kendaraan ini lebih nyaman dan murah, tapi untuk jam-jam tertentu, seperti kepulangan orang-orang bekerja suasana akan berubah menjadi sumpek dan himpit-himpitan.

Selain busway, kita bisa memilih kereta ekonomi. Kereta merupakan angkutan yang paling massal, yang mampu membawa ribuan orang dari pinggiran hingga ke pusat Jakarta. Kenyamanan tak akan pernah kita peroleh dari angkutan ini. Semua profesi tumpah ruah di sini, mulai dari pengamen, pedagang asongan, pengemis, pencari sumbangan, pencopet, hingga orang tak waras juga ada di sini.

Begitu pula jika berjalan-jalan di sepanjang jalan Jenderal Soedirman. Jalan ini tak membuat hati nyaman dan tenteram seperti halnya jalan Raja Chulan ataupun Orchard Road. Jangankan untuk refreshing, membuang sampah saja sangat sulit dilakukan. Untuk mendapatkan tempat sampah, saya harus mengantongi sampah terlebih dahulu untuk beberapa waktu lamanya.

Mau telepon kerabat atau teman yang berada di luar kota pun saya harus mencari-cari wartel dulu, dan jangan harap telepon umum yang (jarang) terdapat di Jalan Jenderal Soedirman (ataupun jalan-jalan lainnya) bisa saya pakai untuk interlokal apalagi sambungan langsung internasional, kalaupun bisa, tarifnya bisa gila-gilaan, padahal katanya daerah itu sentral bisnis. Pernah saya baca berita di koran, Jalan Jenderal Soedirman akan diperlebar untuk mengurangi kemacetan dan memperlancar arus lalu lintas, demikian alasannya. Saya bingung harus jalan di sebelah mana lagi nantinya.

2 Tanggapan to “DARI RAJA CHULAN HINGGA ORCHARD ROAD”

  1. Dana berkata

    Anda belum mengetik gimana sempitnya tiap jok kursi di bus. Bagi para ekspatriat tentu menjadi dilema tersendiri krn postur badan mrk yg tinggi akan sulit menaiki bus macem Matro ‘Miris’ apalagi Ko’parah’ dan sebangsanya. Belum lagi rute bus sering gak sesuai krn bus dioper ke arah laen (dibuat shortcut), termasuk juga angkot. Yang gak hafal rute? Nanya ke sopir bus? Galaknya melebihi pr penjahat di film2 laga barat. Di angkot? Banyak yg leyeh2 alias kalem dan tak bersuara. Bbrp juga tidak demikian sih…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.